Kita Semua Akan Mati dan Dilupakan

    Di suatu pagi dengan matahari yang hangat, kita akan terbangun dan merasa ringan dan merasa seperti angin atau daun kering yang dapat terbawa oleh angin kapan saja. Lantas melihat kita sendiri, di sana, berbaring tidak membuka mata meski jadwal kita bangun sudah lewat beberapa menit lalu. Sampai akhirnya kita terdiam menyadari orang tua kita tengah menangis, menggoncang tubuh kita dengan begitu hebatnya tapi kita masih terbujur kaku. Tak bergerak barang sedikit. Semuanya diam dan membeku, sampai kita menyadari suatu hal. Ini adalah harinya. Hari di mana jiwa kita bebas dari sebuah tubuh yang melindungi kita dari apa-apa yang ada, melepaskan diri dari semua yang mereka sebut sebagai kewajiban, melepaskan diri untuk tidak tahu soal apa yang mereka sebut sebagai hak. Kita hanya tersenyum dari sini, menatap kita yang tampaknya sudah sangat tenang dan mungkin senang akan pembebasan yang selama ini kita nantikan. Suatu hari nanti kita akan dilupakan meski oleh dia yang mengatakan sehidup semati kita, oleh mereka yang melahirkan dan merawat setiap bagian tubuh kita. Kita akan terlupakan dan melebur menjadi sesuatu yang tidak dapat lagi dilihat dengan mata manusia tapi jiwa kita tidak pernah mati meski beribu-ribu tahun yang akan datang. Jiwa kita mungkin tidak akan melebur tetapi mengelilingi semua yang kehilangan dan terpaksa melupakan kita. Ya, kita semua akan mati, kita semua akan dilupakan.

Comments

Popular posts from this blog

Satu Hal yang Kini Tidak Lagi Kutakutkan; Ditinggalkan

Validasi yang Dibutuhkan

Apakah semua orang yang berusia 21 tahun mengalami hal seperti ini?