masih belum tau judulnya apa

    Belakangan ini, aku memikirkan suatu hal. Sebetulnya hal ini sudah memenuhi kepalaku sejak aku duduk di bangku SMP, dan sekarang aku menyadari kalau hal itu masih ada di dalam diriku. Hanya saja karena aku sempat tidak mengalami hal-hal yang sama, aku tidak merasakan ada hal itu.

    Aku termasuk orang yang cukup bergantung terhadap teman dekatku. Ada kekhawatiran ketika harus melakukan sesuatu tanpa mereka (atau dia, tapi karena di SMP aku memiliki beberapa jadi aku akan menyebutnya mereka). Rasanya aneh ketika harus bergabung dengan teman-teman lain, karena mereka adalah satu-satunya kelompok yang lebih banyak memberikan rasa nyaman dibanding kelompok yang lain. Karena tidak memiliki terlalu banyak teman dekat, aku selalu berteman dengan orang yang itu itu saja. Tidak heran kalau relasiku tidak terlalu banyak karena kebiasaan ini sudah berlangsung sejak SMP dan aku baru menyadarinya sekarang (setelah lulus SMA). 

    Ketergantungan yang aku miliki pada temanku bukan ketergantungan yang berlebihan, tapi ada rasa takut yang sangat besar jika salah satu dari mereka tidak ada di sampingku. Tentu saja selama berada di SMP hal ini jarang terjadi karena kami masih ada di lingkungan yang sama, tapi hal itu berubah ketika ada di SMA.

    Masih terekam jelas di kepalaku ketika masuk SMA, kami (aku dan teman-teman dekatku) sama-sama mengeluh karena keadaan SMA yang jauh berbeda dengan keadaan yang pernah kami lalui bersama-sama dulu. Lingkungannya, pertemanannya, segalanya mendadak berubah. Saat itu ada beberapa dari temanku yang bersekolah di sekolah yang sama, tapi tidak dalam 1 kelas. Sementara aku berada di sekolah yang berbeda dengan mereka semua, dan hal itu cukup membuatku takut. Karena aku tidak mengenali siapapun dan terlalu takut untuk berusaha akrab dengan orang lain, aku ingat ketika awal-awal masuk sekolah aku dan salah satu temanku melakukan video call. Sebetulnya aku melakukan ini karena aku takut dan aku ingin memperlihatkan bahwa aku juga memiliki teman dulu. Tidak tahu melakukan itu untuk apa, tapi kurasa untuk memberi tahu semua orang bahwa aku sama seperti mereka.

    Singkat cerita, kehidupan di SMA-ku pada awalnya berjalan tidak lancar. Ketika teman-teman menjauh tanpa kuketahui alasannya, akhirnya aku memilih untuk sendirian. Memang itu hal yang sangat menakutkan, aku bahkan masih bisa membayangkannya sampai sekarang. Hal yang kupikirkan setiap malam adalah dengan siapa aku harus berbicara besok, dengan siapa aku harus pergi ke kantin, dan hal-hal yang mungkin menurut sebagian orang tidak penting. Karena itu ketika ada seseorang yang menunjukkan sikap bersahabat dan dia sering bersikap baik padaku, aku benar-benar menjaganya. Masalah apa pun yang sedang ia hadapi, aku akan menenangkan dan membantunya. Setiap kali kami bertengkar, aku tidak segan untuk meminta maaf lebih dulu meski aku tahu bukan aku yang bersalah. Aku takut kehilangan satu-satunya teman.

    Kelas 3, semuanya berubah. Orang yang selama ini kukenal dengan baik, tidak lagi seperti orang yang kukenal. Dia menjauh, seperti hal yang dia lakukan di kelas 1 dulu. Namun beruntung, saat itu aku sudah lebih siap. Aku tidak lagi merasa sedih seperti kelas 1 meski kuakui masih ada sedikit rasa sedih di sana, tapi semuanya masih bisa teratasi dengan baik.

    Setelah lulus SMA, semua orang tentu memiliki tujuannya masing-masing. Sebagian besar dari teman-temanku di SMP berkuliah, ada juga yang bekerja. Semua orang memiliki kesibukan dan jadwal yang pasti, berbeda dengan pilihanku. Karena kesibukan yang mulai berdatangan, kami sama-sama sulit menentukan jadwal untuk bertemu. Namun aku nyaris selalu mengusahakan untuk bertemu mereka dan menggeser jadwal yang memungkinkan. Meski misalnya saat waktu janjian aku tidak memegang terlalu banyak uang, aku tetap mengusahakan datang untuk bertemu mereka. Tapi lama-kelamaan, frekuensi kami bertemu sangat sangat berkurang. Beberapa dari mereka pergi ke luar kota untuk berkuliah, dan itu menyebabkan kami semakin sulit berkomunikasi. Setiap kali aku mengajak mereka untuk bertemu, mereka akan mengatakan mereka sedang ada urusan dan sibuk. Tentu aku tidak bisa memaksa mereka karena kami bertemu untuk bersenang-senang. Setelah hal ini terjadi selama beberapa kali, akhirnya aku memutuskan untuk diam. Tidak perlu lagi mengajak orang yang tidak ingin bertemu denganku. Tidak perlu lagi mengajak mereka jika mereka hanya membaca pesanku tanpa membalasnya. Tidak perlu lagi mengajak mereka karena mereka selalu sibuk dan memiliki urusan yang jauh lebih penting. 

    Suatu hari, aku melihat teman-temanku membagikan foto saat tengah bertemu teman-temannya yang lain (yang tentu saja tidak kukenal, mungkin itu teman semasa SMA atau teman kuliah). Tidak jarang aku melihat foto dan video yang mereka bagikan di media sosial, hingga akhirnya di benakku terbesit sesuatu. Apa mereka selalu mengusahakan bertemu teman-temannya, tapi tidak pernah berusaha bertemu denganku? Selama ini mereka selalu mengatakan mereka sibuk dan lain sebagainya sehingga kami sangat sulit bertemu, tapi kurasa mereka tidak sesibuk yang mereka katakan. Nyatanya, mereka masih bisa pergi bersenang-senang dengan teman-temannya yang lain. Tanpa aku tahu apa mereka sudah menjanjikan hari itu sejak lama atau tidak, kurasa aku merasa kecewa. Kecewa karena mereka tidak memberikan usaha yang sama besarnya denganku, hanya agar kami bertemu.

    Sekarang, mulai muncul sesuatu di benakku. Ini bukan salah mereka. Mereka tentu bebas memiliki seberapa banyak relasi yang mereka inginkan. Mereka memiliki kebebasan untuk bergaul dengan siapapun yang membuat mereka nyaman. Kami sulit bertemu mungkin memang karena mereka kini lebih mengutamakan teman-teman barunya dan aku tidak bisa menyalahkan mereka untuk itu. Kalau aku berada di posisi yang sama dengan mereka, memiliki teman-teman baru, memiliki lingkungan baru, mungkin aku akan melakukan hal yang sama. Mungkin aku akan mengatakan kalau aku sibuk dan memilih teman-teman baruku. Ya, mungkin itu juga yang akan kulakukan. Semua yang kupikirkan ini semata-mata hanya karena aku terlalu bergantung pada mereka karena tidak ada lagi teman yang kumiliki. Kalau aku tidak bergantung pada mereka, tentu perasaan yang membuatku tidak nyaman tidak akan ada.

    Jadi untuk saat ini, kupikir bergantung pada diri sendiri adalah satu-satunya hal yang perlu kulakukan. Aku tidak perlu merasa khawatir akan ditinggalkan, tidak perlu merasa khawatir kehilangan, karena aku akan selalu ada untuk diriku sendiri. Bergantung pada orang lain mungkin memberikan kenyamanan tertentu, tapi apa yang lebih baik dibandingkan nyaman dengan diri sendiri? Memercayai bahwa sesulit apa pun keadaannya, aku akan tetap ada untuk diriku sendiri.

Comments

Popular posts from this blog

Satu Hal yang Kini Tidak Lagi Kutakutkan; Ditinggalkan

Validasi yang Dibutuhkan

Apakah semua orang yang berusia 21 tahun mengalami hal seperti ini?