Kenapa Aku Tidak Bisa Menolong Diriku Sendiri?

    Beberapa hari lalu, temanku mendatangiku. Ia bercerita tentang masalah yang sedang ia hadapi, yang rasanya terlalu sesak, hingga akhirnya menangis di hadapanku. Aku menerimanya, tidak mempermasalahkan hal itu, mendengarkan dan memberinya sekotak tisu karena hanya itu yang bisa kulakukan. Aku sangat kesulitan ketika harus menghadapi seseorang menangis di hadapanku karena tidak tahu apa yang harus kulakukan. Haruskah aku memberinya kata-kata yang bisa menghibur? Haruskah aku memberikan kata-kata penyemangat? Haruskah aku memeluknya? Haruskah aku mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja? Aku tidak tahu, karena itu aku hanya melakukan apa yang terlintas di kepalaku saat itu. Mungkin beberapa orang akan melihat bahwa aku adalah orang yang tidak bersimpati pada orang lain. Bagaimana mungkin seseorang menangis di depanku tapi aku hanya diam, memberinya tisu, tanpa mengatakan apa-apa? Tapi, kalau saja aku tahu hal baik apa yang bisa kulakukan lebih dari diam dan memberikan sekotak tisu, aku akan melakukannya. Aku hanya tidak tahu metode apa yang tepat untuk menanggapi orang yang menangis, karena aku nyaris tidak pernah menangis di hadapan orang lain. Air mataku kemungkinan besar tidak akan turun jika seseorang bersamaku, meski dadaku terasa sangat sesak seakan-akan aku bisa menangis semalam penuh.

    Ketika ia datang, bahkan sejak beberapa hari sebelumnya, kondisiku tidak sebaik biasanya. Aku merasa kekurangan tenaga untuk melakukan banyak hal, tidak bisa merapikan kamarku meski aku adalah orang yang tidak pernah membiarkan kamarku kotor atau berantakan sedikitpun, tidak bisa merawat diriku dengan baik, melewatkan waktu makan, dan kehilangan jam tidur yang teratur. Semuanya terasa berantakan, tapi aku tidak bisa menceritakan ini pada siapapun karena aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. Perasaan tidak mengerti apa yang sedang dirasakan, jauh lebih buruk dibandingkan mengetahui bahwa diri sedang sedih, marah, atau kecewa. Mencari bantuan pun, bantuan untuk apa? Mengembalikan energiku yang hilang entah ke mana? Bagaimana mungkin orang lain bisa membangkitkan energi yang ada di diriku sendiri? 

    Aku menerimanya datang, membiarkannya untuk menginap di rumahku semalam. Air mataku sama sekali tidak bisa keluar ketika ada orang lain. Dia membutuhkanku, dan aku harus membantunya untuk keluar dari masalah itu. Keesokan harinya pun aku memberikan banyak kata-kata penyemangat yang menurutku bsia membantunya, memberikan saran tentang apa yang harus ia lakukan selanjutnya, mengatakan bahwa aku akan selalu berada di sisinya, dan semua hal-hal baik yang bisa kuberikan. Tapi, ketika aku kembali melihat diriku sendiri, aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku bisa membantu orang lain dengan begitu mudahnya, tapi kenapa aku tidak bisa membantu diriku sendiri? Kenapa aku menolak menerima kenyataan bahwa aku seharusnya menerima bantuan dari orang lain, karena yakin bahwa semua ini akan selesai sendirinya? Kenapa aku terus berlindung di balik kalimat "aku baik-baik saja" meski aku tahu aku sedang tidak baik-baik saja? Kenapa aku harus memaksakan diri membantu dan menghibur temanku, padahal aku pun membutuhkannya? Kenapa semuanya terasa sulit jika itu  berkaitan dengan diri sendiri? 

    Aku sibuk menolong banyak orang, sampai lupa cara menolong diriku sendiri. Aku sibuk mendengarkan orang lain, sampai lupa mendengarkan diriku sendiri. Aku sibuk memastikan semua orang baik-baik saja, sampai lupa bahwa aku sedang tidak baik-baik saja. Aku sibuk memikirkan saran yang tepat untuk orang lain, sampai lupa bahwa aku pun berhak mendapatkan saran itu. Aku sibuk mengirimkan mereka makanan dan minuman agar lebih bersemangat, sampai lupa bahwa aku melewatkan banyak jam makanku sendiri. 

    Ketika aku menyadari hal ini, diriku yang lain mulai bertanya-tanya. Kenapa aku bersikap seakan-akan aku adalah orang paling baik di muka bumi ini? Kenapa aku merasa memiliki kewajiban untuk membantu orang lain meski kondisiku sedang tidak bisa mendengarkan orang lain? Kenapa aku tidak bisa mendengarkan diriku sendiri, dan memilih mendengarkan keluh kesah orang lain? Sampai akhirnya aku menyadari, bahwa aku hanya melakukan apa yang sebenarnya ingin kudapatkan.

    Aku ingin seseorang menanyakan kondisiku, aku ingin seseorang memberikan kata-kata penyemangat untukku, aku ingin seseorang memperhatikanku sebanyak yang ia bisa, aku ingin seseorang mengirimkanku sesuatu untuk membuatku bersemangat, aku ingin dicintai. Aku merasa sudah memberikan semua hal baik yang ada pada diriku, tapi tidak pernah mendapatkan hal yang serupa dari orang lain. Tentu saja, ini bukan kesalahan orang lain termasuk teman-teman dekatku. Mereka tidak pernah memintaku untuk melakukan semua itu, aku melakukannya karena keinginanku sendiri. Namun aku melakukannya karena aku merasa itu adalah hal yang benar. Sudah seharusnya aku melakukan itu semua untuk mereka. Tapi, kenapa mereka tidak melakukan itu untukku? Kenapa aku tidak bisa mendapatkan apa yang sudah kuberikan, padahal aku sudah mengorbankan diriku sendiri untuk itu? Tidak pernah ada yang benar-benar peduli dengan kondisiku. Mereka semua percaya jika aku mengatakan aku baik-baik saja, meski diriku menunjukkan hal yang sebaliknya. Mereka semua tidak memperhatikanku sebesar aku memperhatikan mereka. 

    Aku ingin mengatakan aku butuh bantuan, ingin berteriak minta tolong, ingin berhenti memaksakan diri untuk membantu orang lain, ingin mengatakan bahwa aku sedang tidak bisa mendengarkan mereka, ingin berhenti menghabiskan uangku untuk mereka meski aku senang melihat mereka menerima apa yang kuberikan. Aku bisa dengan mudah membelikan orang lain apa yang mereka inginkan, tapi aku tidak bisa melakukannya ketika diriku sendiri menginginkan sesuatu. Aku terus merasa sayang mengeluarkan uang untuk diriku sendiri, tapi untuk orang lain, aku bisa mengeluarkan sebanyak apa pun yang mereka perlukan. Aku tidak memikirkan bagaimana melanjutkan hari esok dengan sisa uang yang ada, karena jika itu bisa membuat orang lain merasa lebih baik, aku akan mengeluarkan sebesar yang mereka butuhkan. Tapi aku bahkan tidak bisa mengeluarkan uang yang jumlahnya jauh lebih sedikit untuk diriku sendiri. Aku tidak bisa. Tidak akan pernah bisa. 

    Seperti hidup untuk orang lain. Semua yang ada pada diriku hanya diberikan untuk orang lain. Semua yang kumiliki hanya akan menjadi milik orang lain. Mungkin aku sudah kehilangan diriku, karena sudah kuberikan semuanya untuk orang lain.

Comments

Popular posts from this blog

Satu Hal yang Kini Tidak Lagi Kutakutkan; Ditinggalkan

Validasi yang Dibutuhkan

Apakah semua orang yang berusia 21 tahun mengalami hal seperti ini?