Kalau Hidup Bisa Diatur Ulang

    Kalau ada satu tombol yang bisa membuatku kembali memulai semuanya dari awal, mungkin aku memilih untuk menekan tombol itu. Paling tidak satu kali seumur hidup. Untuk putar balik, atur ulang rencana, bersiap untuk semua yang menyebalkan dan menyusahkan. Mempersiapkan diri dari kegagalan, ketertinggalan, ketidakbisaan, juga ditinggalkan. Alasannya sederhana, aku hanya ingin hidup yang lebih tenang.

    Bagaimana rasanya, hidup tanpa dihantui rasa bersalah untuk sesuatu yang tidak tahu apa bentuknya? Bagaimana kalau hidup tanpa bayang-bayang masa lalu yang bersiap menerkam kapan saja? Bagaimana kalau hidup tanpa ada pikiran untuk bunuh diri? Bagaimana kalau hidup tanpa tokoh yang akan kubenci seumur hidup? Bagaimana kalau hidup dengan pola pikir yang sehat dan menyenangkan? Bagaimana kalau hidup, bisa berjalan dengan tenang dan nyaman?

    Banyak hal yang sudah kulakukan untuk memperbaiki pola pikirku sendiri. Ada harga yang harus kubayar untuk sembuh, meski bukan aku yang melukai diriku sendiri. Ada tangisan dan kesengsaraan yang harus kulalui untuk mencapai satu titik; sembuh.  

    Bukankah menyedihkan, berusaha sembuh dari sesuatu yang tidak ada wujudnya? Bagaimana aku bisa menyembuhkan luka yang bentuknya saja aku tidak tahu? Aku sendiri tidak tahu harus mulai dari mana untuk mengusahakan hidup yang lebih baik, sebab dari sekian banyak opsi yang sudah kucoba, tidak ada satu pun yang berhasil. Mungkin hidup memang jalan buntu. Dengan tembok tinggi dan kokoh, mengekang seumur hidup. Kehidupan yang kuusahakan setengah mati itu, sepertinya terlalu jauh dari kemampuanku. Mungkin, menjalani hidup dengan bayang-bayang itu, adalah satu-satunya jalan untuk menelusuri jalan panjang ini. 

    Kalau bisa mengatur ulang hidup, aku ingin hidup tanpa rasa sakit yang tidak kunjung sembuh. Tanpa perasaan mudah terluka dan tersinggung, tanpa kepala yang seringkali menerjemahkan banyak hal terlalu jauh, tanpa pikiran yang terlalu berisik dan penuh, juga tanpa rasa bersalah untuk diriku sendiri dan orang lain.

Comments

Popular posts from this blog

Satu Hal yang Kini Tidak Lagi Kutakutkan; Ditinggalkan

Validasi yang Dibutuhkan

Apakah semua orang yang berusia 21 tahun mengalami hal seperti ini?