Gerbong Kereta yang Luang

    Beberapa hari lalu, aku pulang di rush hour. Biasanya, aku akan kejar agar dapat kereta tercepat, biar ngga perlu nunggu lagi. Tapi hari itu, entah kenapa, rasanya malas buru-buru. Kebetulan hari itu ngga ada yang harus buat aku cepat-cepat sampai rumah. Jadi aku jalan santai, sambil ingat aku ngga perlu lari-lari. Ngga ada yang dikejar di depan, jadi pelan-pelajn aja. Atur napas, minum dulu. 

    Waktu sampai di stasiun, aku sampai kurang dari 5 menit sebelum jadwal kereta berangkat. Peron udah penuh dengan orang-orang yang sibuk dengan posisinya masing-masing. Aku lihat jadwal keberangkatan selanjutnya, sekitar 10 menit lagi. Gapapa juga. Naik yang mana pun, semuanya akan sama-sama ramai. Jadi aku tap kartu, turun eskalator tanpa niat naik kereta yang udah berhenti itu. Aku lihat ada seorang bapak yang paksa masuk ke satu gerbong sambil berpegang ke bagian atas kereta, supaya pintu bisa tertutup rapat.

    Aku jalan terus, dengan niat akan jalan sampai ke ujung peron dan akan nunggu di dekat gerbong perempuan. Betul-betul jalan santai, meski di dalam kereta sudah ada pemberitahuan kalau pintu kereta akan ditutup. Tahu-tahu, aku lihat ada satu gerbong yang masih lumayan lowong. Akhirnya aku pikir, kenapa ngga naik aja? Toh, pintu kereta masih terbuka. Aku masuk. Sama sekali ngga bersentuhan sama orang. Ngga kena orang lain, ngga berdesakan. Habis kereta jalan, aku mikir. Kenapa ya, kalau kita udah ikhlas ngga dikasih sekarang, kita justru akan dapat apa yang kita mau dan butuh? 

    Hari itu, aku ngga kejar kereta seperti biasanya. Tapi tahu-tahu, aku dapat gerbong yang lowong. Biasanya, aku selalu kejar kereta itu, lari-lari, haus, lelah, ngos-ngosan. Bisa masuk kereta memang, tapi ngga enak. Dari awal masuk sudah harus maksa, harus berdesakan, harus tahan banting. Sementara, saat aku mikir "Kalau ngga kereta ini, bisa tunggu kereta selanjutnya." Aku justru dapat yang jauh lebih nyaman dari biasanya kudapat dan yang kupikir akan kudapat. Aneh. Apa kita memang harus ikhlas dulu ya, baru akan dikasih? Karena konsep doa itu ada meminta, bukan memaksa. Jadi kalau dari kita udah ikhlas ngga dikasih sekarang ... mungkin memang antara kita perlu jalan sedikit lagi atau tunggu sebentar lagi, kita akan dapat apa yang kita mau dan butuh. Yang jelas jauh lebih baik dari apa yang ada di bayangan kita.

    Kereta yang kunaiki hari itu sama aja memang. Tapi karena ngga kukejar, seakan-seakan gerbong itu sengaja menyisakan tempat kosong untuk aku berdiri i sana. Yah, konsep berdoa dan meminta ini memang rumit karena ngga ada timeline pastinya. Tapi salah satu kalimat yang selalu kuingat, kalau berdoa itu harus yakin akan dikasih. Itu dulu syarat utamanya. Kalau kita aja ragu akan dapat, gimana mau dikasih kepercayaan untuk dapat itu? Tapi syaratnya sekarang nambah untukku; yakin akan dikasih dan ikhlas kalau ngga harus dikasih sekarang.

Comments

Popular posts from this blog

Apakah semua orang yang berusia 21 tahun mengalami hal seperti ini?

Satu Hal yang Kini Tidak Lagi Kutakutkan; Ditinggalkan

Tiga Tahun Mimpi Buruk