Tanda Perpisahan
Aku hanya akan kasih closure ke orang-orang yang menurutku perlu dikasih closure. Ke hubungan yang menurutku masih mungkin diperbaiki, ke hubungan yang masih ingin kuusahakan. Kalau pada akhirnya aku memilih untuk pergi tanpa kasih closure apa-apa, artinya menurutku memang orang itu ngga pantas dikasih closure. Aku lebih memilih dia menebak sendiri tentang kenapa aku memilih untuk menjauh. Aku lebih memilih "kemungkinan" dia akan hubungi aku untuk tanya penjelasanku. Aku lebih memilih dia introspeksi dirinya sendiri dibandingkan aku harus jelasin semuanya dengan kemungkinan dia ngga akan paham dan memang ngga akan ada jalan tengahnya.
Kukira awalnya, semua hubungan yang berakhir, harus ada "tanda perpisahan" yang jelas. Sebagai tanda, kalau habis ini kita ngga akan berhubungan lagi dan sejauh apa kita akan memaknai kalimat itu. Tapi ternyata ngga. Tanda perpisahan itu hanya perlu ada ketika kita ingin menyelesaikan semuanya dengan baik, dan sayangnya, ngga semua orang bisa menuntaskan hubungan dengan baik-baik. Reaksi mereka atas sikap kita adalah gambaran apa yang sebetulnya ada di hubungan kita selama ini. Kalau mereka memilih untuk menyalahkan aku atas apa pun yang terjadi, kalau mereka memilih untuk buat narasi sendiri tentang aku di pandangan mereka, kalau mereka memilih untuk beritahu semua orang tentang apa yang menurut mereka aku perbuat, artinya mereka pun ngga mau lagi mengusahakan hubungan itu. Terlebih lagi, kalau mereka lebih memilih percaya dengan asumsi yang mereka buat di kepala mereka sendiri.
Kalau pertanyaan tentang kenapa aku menjauh ngga buat mereka sampai ke titik mereka introspeksi diri, berarti hubungan itu memang ngga akan berhasil kalau dilanjutin. Dan gapapa. Ketidaksepahaman ngga harus dibuat sepaham. Karena mungkin, beberapa hubungan memang harus direlakan dan dibiarkan selesai. Diletakkan jauh-jauh, sejauh yang kita bisa. Dan aku akan menjalani hidup sebagaimana mestinya, seperti sedia kala.
Comments
Post a Comment