Warna-warnimu, Semuanya Baik

    Aku selalu membayangkan diriku jatuh ke dalam sebuah lubang gelap yang jauh. Dengan berita-berita kesedihan, kegagalan, penolakan, dan semua yang membuat orang lain memaklumi kesedihan itu. Aku mengerti bahwa orang lain akan menemani saat kesedihan itu datang, sebagaimana aku menemani mereka. Tapi aku tak mengerti mengapa beberapa orang justru meninggalkanku saat kesedihan itu hilang. Saat kesedihan itu berganti menjadi sebuah kesenangan, atau bahkan kebahagiaan, beberapa dari mereka menghilang. Aku sulit memahami mengapa banyak orang tidak bisa menerima kebahagiaan yang terjadi padaku, meski mereka sudah ada di sana sejak aku jatuh pada lubang gelap itu.

    Lalu, bayangan akan diriku yang diterpa berita-berita kesedihan itu berlalu-lalang. Seakan, hanya dengan bertia kesedihan itu mereka akan datang. Tapi kemudian aku mengerti bahwa tidak semua orang bisa memahami kebahagiaan. Tidak, jika itu tak terjadi pada mereka. 

    Mereka tak ingin melihat wajah semringah itu, wajah merah senang itu, juga intonasi setengah tinggi yang menyiratkan kebahagiaan itu. Mereka tak terbiasa dengan kebahagiaan, dan, semua orang harus seperti itu. Tapi aku tahu, bahwa akan selalu ada orang-orang yang menerimamu, apa pun warnamu saat ini. Mungkin biru kelabu, merah senang atau amarah, kuning bahagia, atau bahkan hitam gelap. Mereka akan ada di sana. Tidak beranjak, tidak terburu-buru, tidak pula memintamu berubah warna secepatnya. Mereka memberimu waktu yang kau butuhkan, dan selalu menggandeng tanganmu tak peduli apa warnamu saat ini.

Comments

Popular posts from this blog

Apakah semua orang yang berusia 21 tahun mengalami hal seperti ini?

Satu Hal yang Kini Tidak Lagi Kutakutkan; Ditinggalkan

Tiga Tahun Mimpi Buruk