Posts

Dua Lemparan Dadu; Hasilnya Tidak 12

     Pada akhirnya kita hanya akan menjauh dari kehidupan itu sendiri lalu mati perlahan-lahan dan sendirian meski hidup dan mati pun selalu membawamu pada kesendirian dan orang-orang yang tidak sepaham denganmu selalu mendorong dan mencecarmu terus-menerus tentang apa yang menurut mereka sesuai dan tidak sesuai meski hidup mereka sendiri tidak cukup tenang dan menyenangkan karena itu mereka memilih mengurus kehidupan lain dengan peruntungan seperti melempar dua buah dadu dan berharap dadu-dadu itu menunjukkan angka 12 tapi sayangnya menjadi percobaan lemparan dadu orang lain tidaklah menyenangkan karena kamu kehilangan kuasa atas dirimu sendiri lalu kembali lagi di titik awal; kamu hidup dan mati sendirian sampai mereka tak menyadari bahwa kamu sudah tidak ada lagi karena mungkin sejak awal mereka memang tidak pernah menganggapmu ada dan satu-satunya yang merasa kehilangan adalah dirimu sendiri serta rentetan cerita di belakangnya.

Tiga Tahun Mimpi Buruk

     Butuh bertahun-tahun untukku mengakui bahwa aku adalah korban perundungan. Entah kenapa, sebutan itu justru membuatku merasa kecil dan terkucilkan meski tidak pernah ada yang mengatakannya padaku secara langsung. Pun, butuh bertahun-tahun untukku mengerti bagaimana perundungan bisa terjadi; tidak hanya fisik, tapi juga secara verbal. Mungkin untuk sekitar 1 tahun, aku masih tidak menyadari adanya julukan "korban perundungan" yang melekat padaku karena bagiku, itu adalah istilah yang cukup besar dan serius. Namun setelah menelusurinya lebih jauh, tentunya dengan membaca, mendengar, atau berkonsultasi secara langsung pada profesional, aku mulai memahami bahwa selama ini aku belum mengakui aku adalah orang yang pernah dirundung.       Selama ini, kalau ada satu atau dua orang yang bertanya atau ada pemicu kecil yang membawaku ke sana, aku masih bisa menjelaskannya dengan jelas dan detail tentang apa yang terjadi. Secara rinci, mulai dari waktu, mimik...

Mati Adalah Hal yang Mutlak

     Kita akan kehilangan setiap hari. Nyawa demi nyawa, kematian demi kematian. Lantas apa yang harus diusahakan kalau masa depan adalah kematian yang mutlak? Kalau mungkin saja, kita tidak akan menemui pernikahan dan masa depan yang gemilang melainkan kematian kita sendiri? Apakah jarak kita dengan Tuhan sudah semakin dekat atau justru semakin jauh? Apakah kita sudah terbiasa untuk kehilangan atau tidak ada orang yang bisa terbiasa dengan kehilangan? Lalu bagaimana kematian itu pada hari yang biasa saja justru hendak menjemput kita padahal kita tak menginginkannya? Atau ketika kita sangat menginginkan kematian itu sendiri, tapi ia tak kunjung datang lantas kita memilih untuk menjemputnya? Seperti apa hidup di sekeliling kita begitu kita memutuskan mati lebih dulu? Apakah kematian itu adalah keputusan atau keputusasaan?   "Tuhan, jarak kita semakin dekat." (Laut Bercerita) Lalu setelahnya, aku mati menjemputnya. 

Hari Ini Terlalu Gelap dan Aku Tak Ingin Berharap Pada Apa-apa

      "Apa hal yang pernah kamu usahakan, tapi akhirnya kamu menyerah?" Seseorang pernah menanyakan hal itu padaku.      Satu-satunya hal yang terlintas di kepalaku ketika mendengar kalimat itu adalah, aku sudah menyerah untuk berusaha masuk ke universitas negeri. Karena itu adalah hal yang pernah kuusahakan dengan semua yang kubisa, tapi pada akhirnya tidak berakhir sesuai dengan keinginanku.       Setelah kupikirkan lagi, seharunya aku memberikan jawaban lain. Aku bukan sudah menyerah untuk masuk ke universitas negeri, tapi aku sudah menyerah untuk bisa mencapai satu kata kuliah. Impian yang dengan yakin kumasukan ke dalam rencana itu, ternyata terlampau jauh untukku. Sampai aku pernah berpikir, kenapa orang-orang sepertiku, yang mimpinya begitu banyak dan tersusun rapi, tampak lebih susah untuk sampai ke sana? Aku paham betul bahwa untuk sebagian orang, angka puluhan dan ratusan itu bisa dicapai dengan mudah. Tapi tidak denganku....

Besok Kita Bertemu Lagi di Pemakamanku

     Pesan masih tergantung, beberapa belum terbaca dan beberapa lagi dibiarkan terbaca. Centang biru lagi dan lagi. Rentetan pesan terkirim menunggu balasan, tapi terlambat. Panggilan telepon tidak terjawab memenuhi notifikasi. Nanti katanya. Hari ini sedang sibuk. Pun kemarin, besok, lusa, entah sampai kapan.      Lalu di pagi hari yang biasa saja, di tengah persiapannya berangkat kerja, kabar duka datang. Seseorang meninggal katanya. Dengar-dengar, bunuh diri. Kalau ditanya alasan, mungkin jawabannya kesepian. Ah, mana mungkin kesepian bisa berujung bunuh diri. Ya, tentu bisa. Beberapa orang tidak bisa hidup sendiri, tapi siapa yang bisa?      Akhirnya, datang ke pemakaman. Menangis tak keruan. Meninggalkan pesan yang tidak terbalas dan panggilan yang tidak terjawab. Notifikasi itu selamanya ada di sana. Umurnya tentu tidak bisa bertambah lagi, tidak sepertimu. Menyesal lah. Menyesal lah seumur hidupmu. 

Apakah semua orang yang berusia 21 tahun mengalami hal seperti ini?

     Aku kadang bertanya-tanya. Apakah bangun tidur dan menjalani keseharian tanpa bertukar pesan dengan siapapun adalah kehidupan yang normal? Apakah semua orang menjalani usia 21 tahun mereka dengan keheningan seperti ini? Apakah aku akan baik-baik saja, untuk jangka waktu yang lama, tanpa pertemuan dan bertukar sapa dengan orang-orang terdekat? Sebetulnya, apa yang membuatku berada di situasi ini? Apakah diriku sendiri yang terlalu berlebihan membawa beban masa lalu, atau orang-orang terdekat yang tidak pernah meletakkan namaku dalam urutan nomor satu di hidup mereka? Aku hanya ingin hidup dengan baik dan benar, tapi aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya. Aku bekerja dan belajar seperti orang gila hanya untuk melupakan kenyataan bahwa semua orang memiliki orang terdekat mereka, sementara aku tidak.      Usiaku 21 tahun, dalam beberapa bulan akan bertambah menjadi 22 tahun. Tentu, banyak orang akan    mengatakan bahwa itu adalah usia yang masi...

Satu Hal yang Kini Tidak Lagi Kutakutkan; Ditinggalkan

     Bukan hanya berduka yang akan menghantam kita tiba-tiba di hari Minggu yang biasa saja, tapi juga rasa sakit.      Rasa sakit atas perasan tidak dianggap, tidak mendapatkan apa yang seharusnya didapatkan, tidak mempunyai seseorang untuk diandalkan, tidak diingat oleh orang terdekat, dan semua perasaan buruk itu, akan menghantam kita di satu hari yang biasa saja. Mungkin ketika bangun dari tidur, perjalanan pulang, di dalam angkutan umum yang berdesakan, atau siang hari terik yang biasa saja. Sangat biasa saja.      Realitas (mari kita menyebutnya begitu), datang seperti palu yang siap menghantam kepala dan seluruh tubuh kita untuk mengingat kembali bahwa tidak ada seorang pun yang menginginkan kita sebesar kita menginginkan orang-orang di sekitar kita. Teman-teman yang kita anggap dekat itu, sangat mungkin hanya menganggap kita sebagai satu dari ratusan kenalan mereka yang tidak ada artinya.       Aku tidak merasakan ...