Posts

Warna-warnimu, Semuanya Baik

     Aku selalu membayangkan diriku jatuh ke dalam sebuah lubang gelap yang jauh. Dengan berita-berita kesedihan, kegagalan, penolakan, dan semua yang membuat orang lain memaklumi kesedihan itu. Aku mengerti bahwa orang lain akan menemani saat kesedihan itu datang, sebagaimana aku menemani mereka. Tapi aku tak mengerti mengapa beberapa orang justru meninggalkanku saat kesedihan itu hilang. Saat kesedihan itu berganti menjadi sebuah kesenangan, atau bahkan kebahagiaan, beberapa dari mereka menghilang. Aku sulit memahami mengapa banyak orang tidak bisa menerima kebahagiaan yang terjadi padaku, meski mereka sudah ada di sana sejak aku jatuh pada lubang gelap itu.      Lalu, bayangan akan diriku yang diterpa berita-berita kesedihan itu berlalu-lalang. Seakan, hanya dengan bertia kesedihan itu mereka akan datang. Tapi kemudian aku mengerti bahwa tidak semua orang bisa memahami kebahagiaan. Tidak, jika itu tak terjadi pada mereka.       Mereka...

Siklus Itu Terus Berulang

     Kalau kata Banda Neira, yang hilang akan berganti. Aku yakin suatu saat, aku akan bertemu dengan orang-orang yang mau bantu aku untuk belajar cara menjaga hubungan dalam jangka waktu yang lama. Juga akan ketemu dengan orang-orang yang ngga akan ke mana-mana. Panjang betul memang terowongannya, dan jelas menyebalkan. Tapi berdiri di tempat yang sama terus-menerus juga ngga kalah menyebalkannya. Capek mengulang siklus yang sama terus-menerus itu betul adanya. Jadi, lebih mudah untuk aku menyudahi semuanya dibandingkan coba lagi dan lagi. Karena ternyata, "coba" juga punya kapasitasnya sendiri dan rasanya, aku sudah sampai di kapasitas tertinggi itu. Jadi, kalau ngga berhasil juga, salahnya mungkin memang bukan di aku. Kalaupun di aku, bukankah menjauh juga akan jadi jawaban?

Hidup Selalu Seperti Ini

     Lalu kamu menangis di tengah malammu yang begitu sepi. Mengingat siapa saja yang pernah berpapasan dengan hidupmu dari waktu ke waktu lantas tersadar bahwa tak ada satu pun dari mereka yang kini tersisa. Semua meninggalkanmu sendirian tanpa sebab yang kamu ketahui. Mungkin hidup berubah dan namamu tak lagi ada di kategori penting. Tapi bukankah hidup selalu demikian? Membawamu pada sesuatu yang tidak kau ingin berkali-kali, mengajakmu berlari untuk menemui jurang di ujungnya. Hidup tak pernah membawamu pergi tidur lalu membelai lembut kepalamu. Hidup tak pernah memanjakan. Pun mereka yang meninggalkanmu.

Gerbong Kereta yang Luang

     Beberapa hari lalu, aku pulang di rush hour . Biasanya, aku akan kejar agar dapat kereta tercepat, biar ngga perlu nunggu lagi. Tapi hari itu, entah kenapa, rasanya malas buru-buru. Kebetulan hari itu ngga ada yang harus buat aku cepat-cepat sampai rumah. Jadi aku jalan santai, sambil ingat aku ngga perlu lari-lari. Ngga ada yang dikejar di depan, jadi pelan-pelajn aja. Atur napas, minum dulu.       Waktu sampai di stasiun, aku sampai kurang dari 5 menit sebelum jadwal kereta berangkat. Peron udah penuh dengan orang-orang yang sibuk dengan posisinya masing-masing. Aku lihat jadwal keberangkatan selanjutnya, sekitar 10 menit lagi. Gapapa juga. Naik yang mana pun, semuanya akan sama-sama ramai. Jadi aku tap kartu, turun eskalator tanpa niat naik kereta yang udah berhenti itu. Aku lihat ada seorang bapak yang paksa masuk ke satu gerbong sambil berpegang ke bagian atas kereta, supaya pintu bisa tertutup rapat.      Aku jalan terus, de...

Apakah Kita Menanti Kehilangan yang Sama?

     Seperti kepingan puzzle terakhir yang tak kau temukan di seluruh permukaan meja. Seperti pohon yang kehilangan selembar daun dan setangkai rantingnya. Seperti ketiadaan segelas air putih di sampingmu saat bangun tidur. Seperti redupnya cahaya matahari yang biasa datang melalui sela-sela jendela kamarmu pada pagi hari. Seperti pulang ke rumah tanpa sambutan suara ibumu yang hangat. Seperti sebuah kalimat yang kehilangan kata-katanya. Seperti sebuah cerita yang kini tak lagi memiliki tokoh utama. Maka kamu terdiam, memahami bahwa besok akan ada lebih banyak kehilangan yang menantimu. Dan kamu hanya duduk, menunggunya merenggut semua yang pernah dan tak sempat kau miliki.

Beranjak Pergi Duluan Pun Ngga Apa

     Beberapa kali, aku lihat pertanyaan "Gimana ya caranya move on ?" dan setelah kupikir lagi, pertanyaan itu sepertinya ngga ada jawabannya. Kita akan sayang dan suka sama seseorang, selagi kita masih ingin. Tapi kalau udah saatnya berhenti, entah karena perasaan kita yang tiba-tiba hilang atau kita merasa udah cukup, aku merasa tubuh kita akan kasih sinyal. Mungkin dengan ngga mau stalk dia lagi, ngga mau berhubungan dan dengar apa pun tentang dia lagi, atau apa pun yang bentuknya macam-macam.      Beberapa orang mungkin akan jawab dengan cari kesibukan. Tapi rasanya aneh, ya, kalau untuk melupakan sesuatu kita harus cari sesuatu yang lain? Karena, toh, perasaan itu ngga ke mana-mana dan masih kita simpan di tempat paling baik. Meski kita cari kesibukan, tempat itu masih kita tutup rapat karena mungkin kita masih takut kehilangan perasaan dan orang itu. Jadi ya, mungkin cari kesibukan cuma akan buat kita lupa sesaat. Tapi di waktu-waktu tertentu, kit...

Tanda Perpisahan

     Aku hanya akan kasih closure ke orang-orang yang menurutku perlu dikasih closure . Ke hubungan yang menurutku masih mungkin diperbaiki, ke hubungan yang masih ingin kuusahakan. Kalau pada akhirnya aku memilih untuk pergi tanpa kasih closure apa-apa, artinya menurutku memang orang itu ngga pantas dikasih closure.  Aku lebih memilih dia menebak sendiri tentang kenapa aku memilih untuk menjauh. Aku lebih memilih "kemungkinan" dia akan hubungi aku untuk tanya penjelasanku. Aku lebih memilih dia introspeksi dirinya sendiri dibandingkan aku harus jelasin semuanya dengan kemungkinan dia ngga akan paham dan memang ngga akan ada jalan tengahnya.      Kukira awalnya, semua hubungan yang berakhir, harus ada "tanda perpisahan" yang jelas. Sebagai tanda, kalau habis ini kita ngga akan berhubungan lagi dan sejauh apa kita akan memaknai kalimat itu. Tapi ternyata ngga. Tanda perpisahan itu hanya perlu ada ketika kita ingin menyelesaikan semuanya dengan baik, d...